Selasa, 10 Januari 2012

PANGERAN DIPONEGORO

Putra Sulung Soeltan Hamengkubuana III, dididik oleh moyangnya Ratu Tegalreja Magelang

H.J. Van den Berg, dalam ‘Dari Panggung Peristiwa Sejarah Dunia, III, menyatakan Pangeran Diponegoro sebagai seorang Muslim yang saleh taat pada aturan agama Islam. Ia menentang tingkah laku Sultan Hamengkubuana IV yang mengikuti kebiasaan orang kafir Belanda, suka mabuk-mabukan hingga mati dalam keadaan mabuk minuman keras. Residen Smissaert mengangkat putranya yang berusia tiga tahun sebagai Sultan Hamengku Buana V.


Pangeran Diponegoro melancarkan protes keras. Ia pun diangkat oleh rakyat sebagai Sultan Abdulhamid Erutcakra Amirul Mukminin, Syaijjidin Panatagama, Chalifah Rasulullah saw ing Tanah Jawa. Pecahlah Perang Diponegoro. 1240 – 1245 H / 1825 – 1830 M. [hal, 195]

Alasan terjadi Perang Diponegoro

·         Kehidupan Istana di Yogyakarta, sudah jauh menyimpang dari ajaran Islam dan suka menindas rakyat.
·         Surat R.A. Kartini kepada Zeehandelaar, menuturkan tentang penyelewengan sistem pernikahan adat. Dikalangkan bangsawan rendah saja di Keraton Pakubuana Surakarta dibenarkan memiliki 26 istri (23 Agustus 1900 M)
·         Pola pikir bangsawan oleh imperialis Belanda diciptakan untuk menolak hukum Islam dan tidak tunduk pada ulama, maka dikembangkan ajaran Kedjawen.
·         Pangeran Diponegoro mempelopori kebangkitan kesadaran akan hukum Islam, gerakan Pangeran Diponegoro ini didukung oleh Kiai Madja dan masyarakat luas yang tertindas oleh pajak. Panglima perangnya adalah Sentot Ali Basyah Prawirodirdjo.
·         Perang berlangsung di Yogyakarta dan sekitarnya, tidak begitu jauh dari pusat pertahanan Kolonial Belanda.
·         Semula perang direncanakan sebagai pengejawantahan gerakan anti penjajah Protestan Belanda. Berubah menjadi Perang Saudara sesama Muslim. Korban terbesar adalah masyarakat Yogyakarta lawan rakyat Surakarta.
·         Menurut Peter Carey, Belanda membangkitkan gerakan anti ulama dari Kesunanan Surakarta. Kemudian Susuhunan Amangkurat I dan VOC melakukan pembunuhan massal terhadap ulama, antara 5000 sampai 6000 ulama yang meninggal.
·         Perang Diponegoro  berakhir akibat ajakan perundingan dari pihak imperialis Protestan Belanda, de Kock, berubah menjadi perangkap penangkapan Pangeran Diponegoro, 28 Maret 1830 M, kemudian dibuang ke Manado selanjutnya ke Makasar.[hal, 204 – 205]


API SEJARAH
Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakan NKRI
Ahmad Mansur Suryanegara
PT. Salamadani Pustaka Semesta
2009 M|Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar