Laman

Selasa, 10 Januari 2012

Kepala Negara Wanita

Kepala negara wanita dan kepala negara yang sudah uzur

Kepala negara wanita,
tbös%ur Îû £`ä3Ï?qãç/ Ÿwur šÆô_§Žy9s? ylŽy9s? Ïp¨ŠÎ=Îg»yfø9$# 4n<rW{$# ( z`ôJÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# šúüÏ?#uäur no4qŸ2¨9$# z`÷èÏÛr&ur ©!$# ÿ¼ã&s!qßuur 4 $yJ¯RÎ) ߃̍ムª!$# |=ÏdõãÏ9 ãNà6Ztã }§ô_Íh9$# Ÿ@÷dr& ÏMøt7ø9$# ö/ä.tÎdgsÜãƒur #ZŽÎgôÜs? ÇÌÌÈ
33.  Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu[1215] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu[1216] dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait[1217] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

[1215]  Maksudnya: isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara'. perintah Ini juga meliputi segenap mukminat.
[1216]  yang dimaksud Jahiliyah yang dahulu ialah Jahiliah kekafiran yang terdapat sebelum nabi Muhammad s.a.w. dan yang dimaksud Jahiliyah sekarang ialah Jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya Islam.
[1217]  Ahlul bait di sini, yaitu keluarga rumah tangga Rasulullah s.a.w.


Menjelang perang Jamal berkecamuk, Ummul Mukminin Aisyah ra. sebagai pemimpin pasukan, menemui seorang tokoh Bashrah Abu Bakrah, untuk minta dukungan. Dengan penuh rasa hormat, Abu Bakrah menjawab permintaan Aisyah, “Sungguh anda adalah ibu kami (orang-orang beriman). Sungguh anda mempunyai hak yang agung di hadapan kami. Tapi saya mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya bangsa tidak akan meraih kejayaan ketika mereka menyerahkan urusan (kepemimpinan) kepada perempuan.”

Pada saat pasukan Aisyah mengalami kekalahan telak, khalifah Ali bin Abi Thalib memberi perlindungan pada Aisyah dengan penuh kehormatan.

Asbabul wurud (kronologis keluarnya) hadis yang menjadi pijakan sikap Abu Bakrah menolak Aisyah, disebutkan dalam kitab Shoih Bukhari. Ketika Rasul mengetahui bahwa Pesia diperintah oleh seorang putrid Kisra, beliau segera mengatakan, “Sebuah bangsa tidak akan meraih kejayaan ketika mereka menyerahkan urusan (kepemimpinan) kepada seorang wanita.”

Esensi hadis tersebut adalah, kecaman Rasul terhadap nepotisme dalam pewarisan tahta Persia. Hanya karena putri adalah keturunan seorang Kaisar, ia behak mewarisi tahtanya. Hal ini jelas bertentangan dengan demokrasi dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Nasib manusia dipertaruhkan melalui pengultusan mitos. The right man in the right place, Rasulullah pernah mengingatkan, bahwa jika sebuah permasalahan diserahkan bukan pada ahlinya kita tinggal menunggu kehancurannya.

Seorang feminis asal Maroko, Fatimma Mernissi, secara prematur menilai hadis yang tersebut misogini (benci kepada perempuan/melecehkan perempuan). Ia menyayangkan sikap Al-Bukhari yang menurutnya secara tidak selektif telah memuat hadis tersebut dalam kitab Shohih.

(Majalah Sabili, No.2 VII 14 Juli 1999)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar