Kamis, 06 Desember 2012

MANUNGGALING ILMU DAN LAKU


Wejangan dari Sosrokartono (1877-1952), kakak dari RA. Kartini.

      ·         Sugih tanpa benda [Kaya Tanpa Harta]
      ·         Digdaya tanpa aji [Sakti tanpa azimat]
      ·         Nglurug tanpa bala [Menyerbu tanpa pasukan]
      ·         Menang tanpa ngasorake [Menang tanpa
            merendahkan]     

Sosrokartono
Mohamad Ali (1966) mengungkapkan beberapa wejangan lainnya dari Sosrokartono;

·         Kantong Bolong, dalam wilayah etis-filosofis     Nulung Pepadane, orang ngango mikir wayah, waduk. Kantong yen ana isi lumuntur marang sasami. [Menolong sesama tanpa peduli pada waktu, perut, kantong. Bila pada sesuatu, di peruntukan manusia]

·         Kantong Kosong, merupakan laku cinta kasih kepada manusia dan Tuhan. Cinta kasih sempurna adalah antusiasme dan empati untuk menolong sesama manusia dalam mengatasi derita, rasa sakit dan duka. Cinta kasih adalah ekspresi pengabdian kepada Tuhan.

·         Ilmu Sunyi, adalah puncak laku spiritual dengan mengosongkan diri (pribadi) dari sifat pemujaan diri dengan mempertaruhkan diri secara lahir batin untuk menolong sesama manusia.

“Saya adalah manusia, oleh sebab itu kemanusiaan tidaklah asing bagi saya” Sosrokartono

Bandung Mawardi
Kompas, Sabtu 03 Januari 2009

Rabu, 05 Desember 2012

MATSYA NYAYA

pieter-bruegel


Toto Suparto
Kompas, Kamis 08 Januari 2009

Matsya Nyaya di gambarkan oleh pelukis Pieter Brughel adalah ikan-ikan besar memakan ikan-ikan kecil.

Pieter Brughel ingin menggambarkan kebiasaan politisi dimana kehidupannya seperti ikan-ikan di laut dimana ikan besar mencaplok ikan kecil. Politik itu mengorbankan si kecil yang sudah menjadi kelaziman manakala yang besar melahap yang kecil.

Matsya Nyaya merupakan terminologi India, adapun strategi untuk mencaplok yang kecil terbagi dalam 4 pendekatan, yaitu :
1.     Saman
Menebar pesona
2.     Danda
Kekerasan
3.     Dana
Politik uang
4.     Bheda
Politik pecah belah

Diantara 4 itu kemudian di tambahi dengan :
a.     Maya
Tipuan
b.     Upeksa
Kepura-puraan
c.      Indrajala
Muslihat

Dalam suatu kisah Mahabrata, terpetik ungkapan yang menekankan, jangan jadi politisi jika enggan menerabas etika, ungkapannya adalah :

“Jika kamu tidak siap berbuat kasar dan membunuh orang, seperti nelayan membunuh ikan, lupakan semua harapan untuk meraih keberhasilan besar”

Untuk menangkal dari strategi Matsya Nyaya adalah dengan suara hati. Suara hati merupakan kesadaran moral dalam situasi nyata, artinya kesadaran dalam situasi itu kita bisa memilih antara melakukan yang benar atau yang salah, serta bahwa kita tidak boleh melakukan yang salah.

Teolog Jhon Henry Newman menegaskan, dalam suara hati kita menyadari berkewajiban mutlak untuk melakukan yang baik dan benar serta menolak yang buruk dan salah.

Rabu, 14 November 2012

Anak Semua Bangsa III


Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
Jakarta, 2006


Keajaiban pengetahuan: tanpa mata yang melihat dia membikin orang mengetahui luasnya dunia. [419]

Umat manusia akan runtuh tanpa wanita.[436]

Manusia tetap yang dulu juga, ruwet dan pusing dengan nafsunya yang sama itu-itu juga.[436]

Terpelajar bisa berbuat keji karena yang terpelajar justru kekejiannya.[462]

Dalam pelik-pelik kehidupan ini, memang apa yang pernah kau pelajari di sekolah hanya permainan kanak-kanak, kau sudah dewasa untuk mengetahui hukum serigala yang berlaku dalam kehidupan diantara mereka, juga diantara kita.[462]

Kita memang tidak mempunyai kekuatan untuk melawan hukum....tapi kita masih punya mulut untuk bicara. Dengan mulut itu saja kita hadapi.[489]

Meniru apa saja yang baik dan bermanfaat justru tanda-tanda kemajuan,....semua pribadi dan bangsa memulai dengan meniru sebelum dapat berdiri sendiri.[487]

Orang rakus harta benda selamanya tak pernah membaca cerita, orang tak berperadaban. Dia takkan pernah perhatikan nasib orang. Apalagi orang yang hanya dalam cerita tertulis.[512]

Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir. Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun ia sarjana. [522]

Anak Semua Bangsa II


Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
Jakarta, 2006


Wujud dan wajah manusia itu tetap sama, tidak lebih baik dari pada di jaman-jaman sebelumnya. Dia tetap makhluk yang tidak tahu apa sesungguhnya dia kehendaki. Semakin sibuk orang mencari-cari dan menemukan, semakin jelas, bahwa dia sebenarnya diburu-buru oleh kegelisahan hati sendiri. [143]

Mengarang adalah bekerja untuk keabadian, kalau sumbernya abadi, bisa jadi karangan itu menjadi abadi. [162]

Petani Jawa takut pada semua yang bukan petani, karena dari pengalaman berabad mereka mengerti tanpa sadarnya, semua yang berada di luar mereka secara sendiri-sendiri atau bersama adalah perampas segala apa dari diri mereka. [246]

Menulis bukan hanya untuk memburu kepuasan pribadi, menulis harus juga mengisi hidup.[280]

Nampaknya semua yang berpendirian harus di usir atau di tumpas.[297]

Semua yang menyenangkan umat manusia, semua yang mengurangi penderitaannya, kebosanannya, semua mengurangi kepayahannya, di jaman sekarang ini akan ditiru oleh seluruh dunia.[399]

Setiap orang harus jadi sumber keuntungan. Dari setiap sentimeter benang yang di tisikan pada bajunya yang sobek, dari setiap langkahnya yang di teguknya. Kelak mungkin dari setiap sentimeter kubik hawa yang dipernafaskan orang.[400]

Kadang-kadang saja menang, dan itu pun hanya sementara dan sebentar.[406]

Satu persen saja, telah menguasai ilmu pengetahuan...manusia yang sudah berubah itu akan bisa mengadakan perubahan atas keadaan dan berubah pula bangsanya, apalagi kalau di tambahkan modal padanya.[406]

Kebebasan, persaudaraan, dan persamaan untuk setiap orang, setiap dan semua bangsa manusia di atas bumi ini........sikap liberal.[407]

Bagaimana cara seorang pribumi bisa menjadi presiden? Apa dia kemudian tidak terjatuh pada kebiasaan raja-raja. Tidakkah kemudian akan timbul orang-orang lain yang ingin jadi seperti dia, dan perang berkecamuk terus menerus seperti isi Babad Tanah Jawi perang yang tidak ada habis-habisnya setiap orang lawan setiap orang, semua lawan semua.[408]

Modal besar ingin membikin seluruh pribumi menjadi kulinya. Tanah pribumi jadi tanah usahanya.[413]

Kebutuhan yang satu melahirkan kebutuhan yang lain, karena begitulah kehidupan.[415]

Yang tak bermodal hanya akan jadi kuli, tidak lebih, biar kepandaiannya setinggi langit, lebih pandai dari dewa-dewa Yunani dan Romawi sekaligus.[416]

Anak Semua Bangsa



Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
Jakarta, 2006

Dengan rendah hati aku mengakui: aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orang tua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang sakral. [vi]

Jangan sampai punya terlalu banyak anak, kalau besar belum tentu berguna. [19]

Belajar berdiri sendiri ! jangan hanya jual tenaga pada siapa pun ! ubah kedudukan kuli jadi pengusaha, biar kecil seperti apapun; tak ada modal? Berserikat, bentuk modal ! belajar kerja sama ! bertekun dalam pekerjaan.[59]

Jarak peradaban itu, berapa pun langkahnya, tidak penting. Bagaimana pun yang kuat akan menelan yang lemah, biarpun yang kuat itu hanya kecil.[69]

Hanya nama sebangsa pohon yang membikin kuning bukit-bukit bila mulai berbunga.[88]

Sepandai-pandainya ahli yang berada dalam kekuasaan yang bodoh mereka akan ikut juga menjadi bodoh.[88]

Bagaimana benih yang tidak sempurna akan punah sebelum berbuah.[105]

Jangan remehkan satu orang, apalagi dua, karena satu pribadi pun mengandung dalam dirinya kemungkinan tanpa batas.[108]

Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.[112]

Setiap bangsa yang terbelakang dijajah oleh bangsa yang maju.[112]

Kesulitan terbesar hanyalah karena kehabisan teman.[114]

Dengan ilmu pengetahuan modern, binatang buas akan menjadi lebih buas, dan manusia keji akan semakin keji. Tapi jangan dilupakan, dengan ilmu pengetahuan modern binatang-binatang yang sebuas-buasnya juga bisa di tundukan.[119]

Dulu suatu bangsa bisa hidup aman di tengah-tengah padang pasir atau hutan, sekarang tidak. Ilmu pengetahuan modern mengusik siapa saja dari keamanan dan kedamaiannya. Juga manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai individu tidak lagi merasa aman. Dia dikejar-kejar selalu, karena ilmu pengetahuan modern memberikan inspirasi dan nafsu untuk menguasai; alam dan manusia sekaligus. Tak ada kekuatan lain yang bisa menghentikan nafsu berkuasa ini kecuali ilmu pengetahuan itu sendiri yang lebih unggul, di tangan manusia yang lebih berbudi. [123]

Rupa-rupanya demam mencari hal-hal baru, alat-alat baru, tidak membiarkan orang boleh puas dengan keadaannya. Orang keranjingan segala apa yang baru, kesopanan baru tingkah laku baru, ...... yang jauh dari baru dianggap manusia sisa jaman tengah. Baru, baru, baru sampai orang dipaksa melupakan, pada hakikatnya kehidupan tetap sama, tetap yang kemarin juga. Orang menjadi kekanak-kanakan seperti bocah sekolah, seakan dengan yang baru kehidupan bisa lebih baik dari pada yang kemarin....inilah jaman baru, minke. Yang tidak baru dianggap kolot, orang tani, orang desa.[142]

Jumat, 19 Oktober 2012

Lima Syarat Satria Jawa


Lima syarat yang ada pada Satria Jawa :

1.       Wisma (Rumah)
Tanpa rumah orang tak mungkin satria. Orang hanya gelandangan. Rumah tempat satria bertolak, tempat dia kembali. Rumah bukan sekedar alamat, dia tempat kepercayaan sesama pada yang meninggali.

2.       Wanita
Tanpa wanita satria menyalahi kodrat sebagai lelaki. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan. Dia bukan sekedar istri untuk suami. Wanita sumbu pada semua, penghidupan dan kehidupan berputar dan berasal.

3.       Turangga (Kuda)
Kuda itu, dia alat yang dapat membawa kamu kemana-mana ; ilmu, pengetahuan, kemampuan, keterampilan kebisaan, keahlian dan akhirnya kemajuan. Tanpa turangga takkan jauh langkahmu, pendek penglihatanmu.

4.       Kukila (Burung)
Burung itu, lambang keindahan kelanggenan (hobby), segala yang tak punya hubungan dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan batin pribadi. Tanpa itu orang hanya sebongkah batu tanpa semangat.

5.       Curiga (Keris)
Keris itu, lambang kewaspadaan, kesiagaan, keperwiraan. Alat untuk mempertahankan yang empat sebelumnya. Tanpa keris yang empat akan bubar, binasa bila mendapat gangguan. 

Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer_Lentera Dipantara_Jakarta, 2005_[463-465]

Bumi Manusia III


Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
Jakarta, 2005

Dalam ilmu, malu tidak punya harga.[378]

Sebagai orang pertama, Tuan berpikir, merancang, memberi komando. Sebagai orang kedua, Tuan penimbang, pembangkang, penolak sebaliknya bisa juga jadi pembenar, penyambut. Tuan yang ketiga, Tuan sebagai orang lain.[379]

Tentang bocah kembar yang sejak kecil makan dari satu piring dan minum dari satu cawan. Begitu menginjak dewasa, biarpun wajahnya sama, mereka menjadi berlainan. Masing-masing digerakan oleh keinginan dan impian yang berlainan. Asal keinginan dan impian sama adalah akibat dari kenyataan yang tidak mencukupi.[386]

Keinginan itu harus di sadari, kalau tidak _ bisa jadi penyakit. [386]

Mantap tidaknya kedewasaan dan nilai tergantung pada besarnya kecilnya dan banyak sedikitnya ujian, cobaan. [372]

Pekerjaan pendidikan dan pengajaran tak lain dari usaha kemanusiaan. [435]

Menjerumuskan orang bisa juga dengan jalan kebaikan. [437]

Jangan lari, dari persoalanmu sendiri, karena itu adalah hakmu sebagai jantan. [440]
Restui anak ini, anak darahmu, anak kesayanganmu. Lindungi dia dari malapetaka, dari aniaya, fitnah dan dengki, karena dia anak kesayanganku, ku lahirkan dia dengan penderitaan nyaris mati. Aku tinggal hidup untuk menyaksikan hari ini. Inilah anak darahmu sendiri, dekatkan dia pada kebesaran dan kejayaan.[466]

Ya, nak...memang kita harus melawan...dengan melawan kita takkan sepenuh kalah.[499]


Rabu, 17 Oktober 2012

Bumi Manusia II


Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
Jakarta, 2005

Bakal jadi apa kau ini kalau aku tidak sanggup bersikap keras? Terhadap siapa saja.[139]

Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya, tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini.[165]

Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain..........Kalau orang tak tahu batas, Tuhan akan memaksanya tahu dengan cara-Nya sendiri.[189]

Jangan sakiti orang tua mu, dan orang yang kau anggap tak tahu segala sesuatu yang kau tahu.[194]

Begini mungkin kodrat perempuan. Dia menderitakan sakit waktu melahirkan, menderita sakit lagi karena tingkahnya.[194]

Tahu kalian apa yang di butuhkan bangsa cacing ini? Seorang pemimpin yang mampu mengangkat derajat mereka kembali.[283]

Kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaannya atas ilmu dan pengetahuan. Semua, pribadi dan bangsa-bangsa akan tumbang tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.[285-286]

Dia bangga sebagai Jawa, dan itu baik selama dia punya perasaan harga diri sebagai pribadi mau pun sebagai anak bangsa. Jangan seperti bangsanya pada umumnya, mereka merasa sebagai bangsa tiada tara di dunia ini bila berada di antara mereka sendiri. Begitu di dekat seorang Eropa, seorang saja, sudah melata, bahkan mengangkat pandang pun tak ada keberanian lagi.[286-287]

Sahabatku, di mana gerangan Gung Jawa di luar gamelan, dalam kehidupan nyata ini?.[287]

Dengarkan gamelan itu........Begitulah berabad-abad belakangan ini. Dan Gung kehidupan Jawa tak juga tiba. Gamelan itu lebih banyak menyanyikan kerinduan suatu bangsa akan datangnya Messias-merindukan, tidak mencari dan tidak melahirkan. Gamelan itu sendiri menterjemahkan kehidupan kejiwaan Jawa yang ogah mencari, hanya berputar-putar, mengulang, seperti doa dan mantra, membenamkan, mematikan pikiran, membawa orang ke alam lesu yang menyesatkan, tidak ada pribadi.[287-288]

Setiap lelaki yang beristri lebih dari seorang pasti seorang penipu, dan menjadi penipu tanpa semau sendiri.[302]

Ketakutan itu sendiri adalah kebodohan awal yang akan membodohkan semua.[310]

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.[313]

Ingat, kesan pertama betapapun penting, belum tentu benar.[348]

Dia seperti batu meteor yang melesat sendirian, melintasi keluasan tanpa batas, entah di mana kelak bakal mendarat, di planet lain atau kembali ke bumi, atau hilang dalam keterbatasan alam.[348]

Cinta tak lain dari sumber kekuatan tanpa bandingan, bisa mengubah, menghancurkan atau meniadakan, membangun atau menggalang.[373]

Kalau hidup terus orang menjadi beban semua. Kalau mati dia akan jadi sesalan.[376]

Bumi Manusia


Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
Jakarta, 2005

Cerita,....selamanya manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang di tampilkanya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit di pahami dari pada sang manusia....jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuan mu tentang manusia takkan  bakal kemput.[7]

Hari depan yang selalu menggoda! Misteri! Setiap pribadi akan datang padanya mau tak mau, dengan seluruh jiwa dan raganya. Dan terlalu sering dia ternyata maharaja zalim. Juga akhirnya aku datang padanya bakalnya. Adakah itu dewa pemurah atau jail, itulah memang urusan dia: manusia terlalu sering bertepuk sebelah tangan....[9]

Ilmu pengetahuan telah memberikan restu yang tiada terhingga indahnya.[11]

Aku lebih mempercayai ilmu pengetahuan, akal. Setidak-tidaknya padanya ada kepastian-kepastian yang bisa di pegang.[16]

Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak dihadapkan orang lain.[35]

Kau harus berterima kasih pada segala yang memberi mu kehidupan....sekalipun dia hanya seekor kuda.[50]

Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.[59]

Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.[77]

Cinta itu indah,...juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya.[81]

Kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan atau satu kelemahan. Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan-baiknya.[83]

Wanita lebih suka mengabdi pada kekinian dan getar pada ketuaan; mereka dicengkam oleh impian tentang kemudaan yang rapuh itu dan hendak bergayutan abadi pada kemudaan impian itu. Umur sungguh aniaya bagi wanita.[89]

Memerintah pekerja pun kau tidak bisa karena kau tak bisa memerintah dirimu sendiri. Memerintah dirimu sendiri kau tak bisa karena kau tak tahu bekerja.[98]

Manusia yang wajar mesti punya sahabat, persahabatan tanpa pamrih. Tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi.[101]

Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa-apa.[139]

Senin, 20 Agustus 2012

Partikel II


Partikel
Dewi ‘Dee’ Lestari
Bentang Pustaka
Jakarta, 2012


Manusia sudah ber-evolusi terlalu jauh meninggalkan alam.[6]

Terputusnya manusia dengan alam diindikasikan dengan praktek samanisme yang tergusur.
Bumi mengalami krisis karena relasi manusia dan bumi semakin mekanistis. Alam ini tidak lagi dilihat sebagai bermukimnya spirit-spirit luhur, melainkan sebatas kekayaan flora dan fauna yang bisa di eksploitasi kapan saja.[388]

Seseorang tidak mungkin menaklukkan angkasa luar kalau ia belum menaklukkan alam batinnya. Seberapa jauh umat manusia mengeksplorasi alam batinnya, sebatas itu pulalah kita bisa mengeksplorasi angkasa.[410]

Bumi adalah makhluk hidup berkesadaran dan manusia adalah penyakit terjahat bagi bumi.
Bumi kita ini organisme hidup berinteligensi tinggi dan dia sadar atas semua perlakukan kita kepadanya.[422]

Kita tidak bisa memakai keterbatasan logika untuk memahami kompleksnya dimensi lain. Kalau logika mu tidak sanggup mengikuti, tapi intuisi mu merasakan sesuatu, bukan berarti kita pasti salah kan?....segalanya mungkin.[467]

Inspirasi akan memilih inangnya. Seperti jodoh ketika bertemu dan pas, terjadilah perkawinan, dan muncullah entitas baru. [492]

Partikel


Partikel
Dewi ‘Dee’ Lestari
Bentang Pustaka
Jakarta, 2012

          Engkaulah keheningan yang hadir sebelum segala suara
                     Engkaulah lengang tempatku berpulang

                            Bunyimu adalah senyapmu
                            Tarianmu adalah gemingmu

Pada bisumu, bermuara segala jawaban
Dalam hadirmu, keabadian sayup mengecup

Saput batinku meluruh tatapmu sekilas dan sungguh
Bersama engkau, aku hanya kepala tanpa rencana
Telanjang tanpa kata-kata

Cuma kini
Tinggal sunyi

Dan, waktu perlahan mati

(catatan kecil saat langit kelabu di taman bambu)

Jumat, 29 Juni 2012

Sangkan Paraning Dumadi


ZAMAN GEMBLUNG
Sri Winata Achmad
Diva Press
Jogjakarta, 2011


Seorang manusia harus menerima yang menjadi jatahnya
Berserah pada kehendak Tuhan
Manusia hanya menjalani hidup
Sekarang aku tanya,
“Apakah sudah mantap dalam hati mengaku guru kepadaku?”

Bila kau sudah rela, percayalah pada nasihat ini
Tapi jangan ragu-ragu, jika tak percaya, maka tak akan lama
Hidupmu akan mendapatkan kemuliaan
Kalian semua murid-muridku, tafsirlah isyarat ini

Bila malam ada apa, jika siang memenuhinya, apa yang tidak ada?
Sesungguhnya ia berada di mana?
Jauh tanpa penyekat, dekat tanpa bersentuhan
Bila jauh tampak membayang, bila dekat tak tampak jelas
Jika berisi isinya apa?
Bila kosong akan mencukupi

Lembut tak dapat terambil
Kasar tak dapat di tafsirkan
Yang luas lebih sempit, yang sempit akan lebih luas
Bumbung kosong apa isinya?
Siapa yang berada di depanmu?

Bila laki tak memiliki penis
Bila perempuan tak memiliki vagina
Baik di sini maupun di sana
Baik di depan maupun di belakang
Baik di kiri maupun di kanan
Baik di bawah maupun di atas

Perahunya memenuhi samudra
Kuda berderap pandanglah kemudian
Jejaknya kuntul yang terbang melayang
Si sulung adiknya si bungsu
Si belut bersemayam di bukit
Katak menyelimuti lubangnya

Orang bisu dapat berbicara lantang
Ayam jantan berkokok di dalam telurnya
Orang buta menghitung bintang
Orang kerdil meraih langit
Orang lumpuh mengitari jagat
Di mana sarang angin?

Berada di mana buahnya air, berada di hatinya kangkung
Mencari api dengan membawa lentera
Orang mengambil air dengan pikulan air
Kampuh putih bertambal putih
Kampuh hitam bertambal gelap

Tumbar berisi tompo
Radu alas merayap, pada pohon sembukan
Samudra yang tanpa tepi
Rambut hitam menjadi putih
Yang putih datang dari mana?

Hitamnya hilang ke mana
Serta lentera yang padam, nyalanya hilang kemana
Carilah sampai ketemu
Bila tak tahu maka tersialah
Belum sempurna ilmu itu
Sarah berada di samudra
Gagak dan kuntul mengembara juga
Si gagak berada di mana
Gagak itu kemudian datang
Si kuntul terbang
Pergi kemana?

Hendaklah diketahui, kalian semua muridku
Pertanda apa, hayatilah!
Hingga tersua kesejatiannya, kesejatian rasa itu
Yang berada di dalam samudra.

(Sangkan Paraning Dumadi)
[244-247]

Serat Babad Tanah Jawa


ZAMAN GEMBLUNG
Sri Winata Achmad
Diva Press
Jogjakarta, 2011

Bersama datangnya seorang pendeta
Terjadi prahara hujan dan angin
Gunung menggelegar
Kilat dan petir
Langit berselimutkan awan gulita
Banyak makhluk halus terusik
Semua setan berlari tunggang-langgang
Banaspati mengungsi
Demikian pula dengan ilu-ilu dan janggitan

Jin peri dan bekasakan, mengungsi di samudra
Raksasa berlari
Dhemit thethekan berlari kencang
Semuanya mengungsi
Tidak kuasa akan panasnya hawa

Sementara,
Sang Hyang Semar dan Sang Hyang Togog lama bertapa di gunung
Bertempat tinggal di kakinya
Berpadepokan di Merbabu
Betapa terkejut
Menyaksikan prahara yang sangat dahsyat
Makhluk halus yang terusik
Berlari tunggang-langgang berebut depan
Semuanya mengungsi di samudra

Sang Hyang Semar berkata
“Ki Togog berada di mana?”
Makhluk halus berada dalam kekacauan
Prahara besar telah terjadi
Bumi bergoyang-goyang
Gempa dan angin besar melanda
Awan gelap gulita
Kilat menyambar-nyambar
Gunung menggelegar dan bergoncang-goncang

Sang Hyang Togog menjawab pelan
“Aku tak tahu terserah pada Adhi Semar!”
Akhirnya, Sang Hyang Togog memberi tahu
Jika ia tak tahu tentang kehendak Sutan Rum mengutus pendeta
Syekh Bakir namanya
Menanam tumbal dengan gunung di tanah Jawa

Sang Hyang Togog yang telah menemui sang pendeta
Utusan dari Sultan Rum berkata
“Sang pendeta dari Rum itu yang menenung semua makhluk halus, hingga tak satu pun yang tak mengungsi, semuanya pergi meninggalkan tempat kediamannya.”

Bersama Sang Hyang Togog
Sang Hyang Semar menemui pendeta dari Rum
Di perjalanan tak dikisahkan
Sesampai dihadapkan sang pendeta Syekh Bakir
Sang Hyang Semar menyaksikan gunung Tidar meluncur di hadapannya

Serat Sabda Palon


ZAMAN GEMBLUNG
Sri Winata Achmad
Diva Press
Jogjakarta, 2011


Benar-benar kesengsaraan di tanah Jawa semasa tahun 1870
Ibarat menyeberangi sungai baru sampai di tengah, sungai itu banjir bandang
Karena kedalamannya, sungai itu menenggelamkan manusia
Banyak manusia mati

Petaka yang timbul di seluruh tanah Jawa, berkat dari Sang Pemberi Hidup
Tak dapat dielakkan
Karena, dunia ini dalam genggaman kekuasaan-Nya
Seluruh para dewata hanya memberikan tanda
Bahwa dunia ini ada yang menciptakannya

Beraneka rupa petaka yang menghancurkan pulau Jawa
Seluruh orang yang bekerja penghasilannya tak mencukupi
Para bangsawan berduka
Para pedagang dalam kebangkrutan
Buruh berpenghasilan kecil
Petani hidup serba kekurangan, hasilnya banyak terbuang di sawah
Bumi kehilangan berkahnya
Banyak hama yang mendatangi
Banyak kayu yang hilang, ditebangi pencuri
Hingga hutan benar-benar hancur
Karena hasilnya dijadikan rebutan

Telah rusak tata kehidupan manusia
Bila malam gerimis banyak pencuri
Bila siang, banyak perampok di jalan
Banyak manusia saling berebut benar
Dengan berdalih hukum negara
Tak kuat menderita, namun terburu datangnya petaka yang sangat besar

Penyakit menjadi-jadi di tanah Jawa
Pagi sakit, sorenya mati

Selain petaka kematian
Terjadilah banjir yang mematikan
Hujan angin salah musim
Angin besar yang sangat menakutkan
Kayu-kayu besar roboh diterpa angin besar
Roboh berserakan
Sungai-sungai banjir
Bila diibaratkan seperti samudra
Gelombang naik ke daratan
Merusak batas pantai
Sedangkan kayu-kayu di sekitar sungai terseret arus banjir
Sampai ke laut
Batu-batu besar hanyut
Tenggelam, ikut terseret arus
Bergemuruh suaranya

Gunung-gunung besar meletus sangat menakutkan
Menggelegar suaranya
Lahar muntah ke segala penjuru
Meluap menggenangi
Menjelajah di tengah hutan dan desa besar
Banyak manusia mati
Kerbau dan sapi musnah
Sirna dan tidak dapat pulih kembali

Terjadi gempa tujuh kali sehari
Membuat manusia menderita
Tanahnya retak-retak
Para makhluk halus melempari
Menyeret seluruh manusia
Hingga ribut ke sana kemari
Banyak yang mengalami sakit raga
Hanya sedikit yang sembuh
Namun kebanyakan mati

(Serat Sabda Palon)
[210-213]