Jumat, 06 Januari 2012

TAREKAT QADIRIYAH NAQSABANDIYAH Dalam sejarah Indonesia

PERKEMBANGAN TASAWUF

Pada masa pengembangan Islam abad ke-12 M hingga abad ke-17 M, masuk ajaran Tasawuf  N.A. Baloch, menjelaskan aliran Tasawuf yang besar pengaruhnya adalah Tarekat Qadiriyah (Syaikh Abdul Qadir Jaelani) dan Tarekat Naqsabandiyah (Bahauddin Naqsabandiah) dari Bukhara 1390 M. Di Nusantara Indonesia kedua tarekat tersebut menjadi Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah, oleh Sjech Achmad khatib Sambas dan Sjech Abdoel Karim Banten. Pada abad ke-20 M Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah, menjadi sentral di Asia Tenggara oleh K.H. A. Shohibulwafa Tadjul Arifin dari Pesantern Suryalaya Tasikmalaya. [103]


Sjech Achmad khatib as-Sambasi belajar dari Syaikh Dawud bin Abdullah Fathani dan Syaikh Syamsudin, pada 1266 – 1272 H/1850 – 1856 M. Sjech Achmad khatib Sambas oleh guru mursyidnya dilantik sebagai Syaikh Mursyid Kamil Al-Mukammil.[212]

Dr.A. Mukti Ali (Menteri Agama RI) dalam tulisannya The Spread of Islam in Indonesia menyatakan bahwa pengembangan Islam di Indonesia adalah melalui Tarekat dan Tasawuf. Nama para guru Tasawuf atau para Syaikh tersebut tercatat dengan jelas, sama dengan nama wali Sanga. Tidak sebagaimana para wirausahawan Arab yang pertama membawa ajaran Islam. [104]

PERLAWANAN ULAMA TAREKAT

Ajid Thohir, pada 1423 H/2003 M, dalam gerakan politik kaum Tarekat menuturkan pada 1888 M di Cilegon terjadi perlawanan bersenjata dari kalangan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang di pimpin oleh Haji Wasjid dan Tubagus Ismail. [212]

Gerakan Imam Mahdi di Libya, pada 1202 – 1276 H/1787 – 1859 M, dipimpin oleh Muhammad Ali As-Sanusi.

Gerakan Imam Mahdi di Sudan, pada 1255 – 1261 H/1840 – 1845 M, dipimpin oleh Syaikh Abdul Karim dari Makkah.[213]

API SEJARAH
Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakan NKRI
Ahmad Mansur Suryanegara
PT. Salamadani Pustaka Semesta
2009 M|Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar