Rabu, 07 Desember 2011

Anindita S Thayf­

·         Buku yang lebih tua dan semakin sering dibaca lebih kuat dari buku baru yang belum pernah dibaca.
·         Pembacalah yang melakukan reproduksi makna yang menentukan “kekuatan” sebuah buku, bukan pengarangnya.

Suara Buku
·         Hanya ada satu tempat idaman untuk rumpun kata-kata: Buku. Disitulah mereka bisa menjalankan fungsi sebenarnya _menyampaikan ilmu pengetahuan, membagi informasi, hingga menyuarakan kebenaran_ tanpa takut lenyap seketika terbawa angin yang berembus. Buku adalah sebuah prasasti, tempat kata-kata menjejakan maknanya yang ambigu sembari menunggu dipahami lebih lanjut. Pun sebuah kotak harta karun misterius yang bisa mendatangkan berbagai resiko.
·         Setiap buku memiliki suara tersendiri....Seperti berkomunikasi langsung dengan pembacanya.
·         Ada cerita dibalik cerita. Inilah yang terjadi jika buku bisa berdiri sendiri. Ia selalu memberikan sebuah cerita baru setiap kali dibaca ulang.

Buku terkutuk
·         Tetapi, tanpa disadari, membumihanguskan buku-buku terkutuk sama saja dengan melepaskan kutukan itu ketengah pusaran angin. Kutukan akan hinggap dan tersemai di mana-mana.

Anindita S Thayf­_Kompas | Tren | Buku | Minggu, 18 Juli 2010_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar