Rabu, 14 November 2012

Anak Semua Bangsa



Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
Jakarta, 2006

Dengan rendah hati aku mengakui: aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orang tua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang sakral. [vi]

Jangan sampai punya terlalu banyak anak, kalau besar belum tentu berguna. [19]

Belajar berdiri sendiri ! jangan hanya jual tenaga pada siapa pun ! ubah kedudukan kuli jadi pengusaha, biar kecil seperti apapun; tak ada modal? Berserikat, bentuk modal ! belajar kerja sama ! bertekun dalam pekerjaan.[59]

Jarak peradaban itu, berapa pun langkahnya, tidak penting. Bagaimana pun yang kuat akan menelan yang lemah, biarpun yang kuat itu hanya kecil.[69]

Hanya nama sebangsa pohon yang membikin kuning bukit-bukit bila mulai berbunga.[88]

Sepandai-pandainya ahli yang berada dalam kekuasaan yang bodoh mereka akan ikut juga menjadi bodoh.[88]

Bagaimana benih yang tidak sempurna akan punah sebelum berbuah.[105]

Jangan remehkan satu orang, apalagi dua, karena satu pribadi pun mengandung dalam dirinya kemungkinan tanpa batas.[108]

Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.[112]

Setiap bangsa yang terbelakang dijajah oleh bangsa yang maju.[112]

Kesulitan terbesar hanyalah karena kehabisan teman.[114]

Dengan ilmu pengetahuan modern, binatang buas akan menjadi lebih buas, dan manusia keji akan semakin keji. Tapi jangan dilupakan, dengan ilmu pengetahuan modern binatang-binatang yang sebuas-buasnya juga bisa di tundukan.[119]

Dulu suatu bangsa bisa hidup aman di tengah-tengah padang pasir atau hutan, sekarang tidak. Ilmu pengetahuan modern mengusik siapa saja dari keamanan dan kedamaiannya. Juga manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai individu tidak lagi merasa aman. Dia dikejar-kejar selalu, karena ilmu pengetahuan modern memberikan inspirasi dan nafsu untuk menguasai; alam dan manusia sekaligus. Tak ada kekuatan lain yang bisa menghentikan nafsu berkuasa ini kecuali ilmu pengetahuan itu sendiri yang lebih unggul, di tangan manusia yang lebih berbudi. [123]

Rupa-rupanya demam mencari hal-hal baru, alat-alat baru, tidak membiarkan orang boleh puas dengan keadaannya. Orang keranjingan segala apa yang baru, kesopanan baru tingkah laku baru, ...... yang jauh dari baru dianggap manusia sisa jaman tengah. Baru, baru, baru sampai orang dipaksa melupakan, pada hakikatnya kehidupan tetap sama, tetap yang kemarin juga. Orang menjadi kekanak-kanakan seperti bocah sekolah, seakan dengan yang baru kehidupan bisa lebih baik dari pada yang kemarin....inilah jaman baru, minke. Yang tidak baru dianggap kolot, orang tani, orang desa.[142]

Jumat, 19 Oktober 2012

Lima Syarat Satria Jawa


Lima syarat yang ada pada Satria Jawa :

1.       Wisma (Rumah)
Tanpa rumah orang tak mungkin satria. Orang hanya gelandangan. Rumah tempat satria bertolak, tempat dia kembali. Rumah bukan sekedar alamat, dia tempat kepercayaan sesama pada yang meninggali.

2.       Wanita
Tanpa wanita satria menyalahi kodrat sebagai lelaki. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan. Dia bukan sekedar istri untuk suami. Wanita sumbu pada semua, penghidupan dan kehidupan berputar dan berasal.

3.       Turangga (Kuda)
Kuda itu, dia alat yang dapat membawa kamu kemana-mana ; ilmu, pengetahuan, kemampuan, keterampilan kebisaan, keahlian dan akhirnya kemajuan. Tanpa turangga takkan jauh langkahmu, pendek penglihatanmu.

4.       Kukila (Burung)
Burung itu, lambang keindahan kelanggenan (hobby), segala yang tak punya hubungan dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan batin pribadi. Tanpa itu orang hanya sebongkah batu tanpa semangat.

5.       Curiga (Keris)
Keris itu, lambang kewaspadaan, kesiagaan, keperwiraan. Alat untuk mempertahankan yang empat sebelumnya. Tanpa keris yang empat akan bubar, binasa bila mendapat gangguan. 

Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer_Lentera Dipantara_Jakarta, 2005_[463-465]

Bumi Manusia III


Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
Jakarta, 2005

Dalam ilmu, malu tidak punya harga.[378]

Sebagai orang pertama, Tuan berpikir, merancang, memberi komando. Sebagai orang kedua, Tuan penimbang, pembangkang, penolak sebaliknya bisa juga jadi pembenar, penyambut. Tuan yang ketiga, Tuan sebagai orang lain.[379]

Tentang bocah kembar yang sejak kecil makan dari satu piring dan minum dari satu cawan. Begitu menginjak dewasa, biarpun wajahnya sama, mereka menjadi berlainan. Masing-masing digerakan oleh keinginan dan impian yang berlainan. Asal keinginan dan impian sama adalah akibat dari kenyataan yang tidak mencukupi.[386]

Keinginan itu harus di sadari, kalau tidak _ bisa jadi penyakit. [386]

Mantap tidaknya kedewasaan dan nilai tergantung pada besarnya kecilnya dan banyak sedikitnya ujian, cobaan. [372]

Pekerjaan pendidikan dan pengajaran tak lain dari usaha kemanusiaan. [435]

Menjerumuskan orang bisa juga dengan jalan kebaikan. [437]

Jangan lari, dari persoalanmu sendiri, karena itu adalah hakmu sebagai jantan. [440]
Restui anak ini, anak darahmu, anak kesayanganmu. Lindungi dia dari malapetaka, dari aniaya, fitnah dan dengki, karena dia anak kesayanganku, ku lahirkan dia dengan penderitaan nyaris mati. Aku tinggal hidup untuk menyaksikan hari ini. Inilah anak darahmu sendiri, dekatkan dia pada kebesaran dan kejayaan.[466]

Ya, nak...memang kita harus melawan...dengan melawan kita takkan sepenuh kalah.[499]


Rabu, 17 Oktober 2012

Bumi Manusia II


Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
Jakarta, 2005

Bakal jadi apa kau ini kalau aku tidak sanggup bersikap keras? Terhadap siapa saja.[139]

Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya, tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini.[165]

Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain..........Kalau orang tak tahu batas, Tuhan akan memaksanya tahu dengan cara-Nya sendiri.[189]

Jangan sakiti orang tua mu, dan orang yang kau anggap tak tahu segala sesuatu yang kau tahu.[194]

Begini mungkin kodrat perempuan. Dia menderitakan sakit waktu melahirkan, menderita sakit lagi karena tingkahnya.[194]

Tahu kalian apa yang di butuhkan bangsa cacing ini? Seorang pemimpin yang mampu mengangkat derajat mereka kembali.[283]

Kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaannya atas ilmu dan pengetahuan. Semua, pribadi dan bangsa-bangsa akan tumbang tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.[285-286]

Dia bangga sebagai Jawa, dan itu baik selama dia punya perasaan harga diri sebagai pribadi mau pun sebagai anak bangsa. Jangan seperti bangsanya pada umumnya, mereka merasa sebagai bangsa tiada tara di dunia ini bila berada di antara mereka sendiri. Begitu di dekat seorang Eropa, seorang saja, sudah melata, bahkan mengangkat pandang pun tak ada keberanian lagi.[286-287]

Sahabatku, di mana gerangan Gung Jawa di luar gamelan, dalam kehidupan nyata ini?.[287]

Dengarkan gamelan itu........Begitulah berabad-abad belakangan ini. Dan Gung kehidupan Jawa tak juga tiba. Gamelan itu lebih banyak menyanyikan kerinduan suatu bangsa akan datangnya Messias-merindukan, tidak mencari dan tidak melahirkan. Gamelan itu sendiri menterjemahkan kehidupan kejiwaan Jawa yang ogah mencari, hanya berputar-putar, mengulang, seperti doa dan mantra, membenamkan, mematikan pikiran, membawa orang ke alam lesu yang menyesatkan, tidak ada pribadi.[287-288]

Setiap lelaki yang beristri lebih dari seorang pasti seorang penipu, dan menjadi penipu tanpa semau sendiri.[302]

Ketakutan itu sendiri adalah kebodohan awal yang akan membodohkan semua.[310]

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.[313]

Ingat, kesan pertama betapapun penting, belum tentu benar.[348]

Dia seperti batu meteor yang melesat sendirian, melintasi keluasan tanpa batas, entah di mana kelak bakal mendarat, di planet lain atau kembali ke bumi, atau hilang dalam keterbatasan alam.[348]

Cinta tak lain dari sumber kekuatan tanpa bandingan, bisa mengubah, menghancurkan atau meniadakan, membangun atau menggalang.[373]

Kalau hidup terus orang menjadi beban semua. Kalau mati dia akan jadi sesalan.[376]

Bumi Manusia


Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
Jakarta, 2005

Cerita,....selamanya manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang di tampilkanya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit di pahami dari pada sang manusia....jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuan mu tentang manusia takkan  bakal kemput.[7]

Hari depan yang selalu menggoda! Misteri! Setiap pribadi akan datang padanya mau tak mau, dengan seluruh jiwa dan raganya. Dan terlalu sering dia ternyata maharaja zalim. Juga akhirnya aku datang padanya bakalnya. Adakah itu dewa pemurah atau jail, itulah memang urusan dia: manusia terlalu sering bertepuk sebelah tangan....[9]

Ilmu pengetahuan telah memberikan restu yang tiada terhingga indahnya.[11]

Aku lebih mempercayai ilmu pengetahuan, akal. Setidak-tidaknya padanya ada kepastian-kepastian yang bisa di pegang.[16]

Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak dihadapkan orang lain.[35]

Kau harus berterima kasih pada segala yang memberi mu kehidupan....sekalipun dia hanya seekor kuda.[50]

Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.[59]

Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.[77]

Cinta itu indah,...juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya.[81]

Kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan atau satu kelemahan. Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan-baiknya.[83]

Wanita lebih suka mengabdi pada kekinian dan getar pada ketuaan; mereka dicengkam oleh impian tentang kemudaan yang rapuh itu dan hendak bergayutan abadi pada kemudaan impian itu. Umur sungguh aniaya bagi wanita.[89]

Memerintah pekerja pun kau tidak bisa karena kau tak bisa memerintah dirimu sendiri. Memerintah dirimu sendiri kau tak bisa karena kau tak tahu bekerja.[98]

Manusia yang wajar mesti punya sahabat, persahabatan tanpa pamrih. Tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi.[101]

Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa-apa.[139]

Senin, 20 Agustus 2012

Partikel II


Partikel
Dewi ‘Dee’ Lestari
Bentang Pustaka
Jakarta, 2012


Manusia sudah ber-evolusi terlalu jauh meninggalkan alam.[6]

Terputusnya manusia dengan alam diindikasikan dengan praktek samanisme yang tergusur.
Bumi mengalami krisis karena relasi manusia dan bumi semakin mekanistis. Alam ini tidak lagi dilihat sebagai bermukimnya spirit-spirit luhur, melainkan sebatas kekayaan flora dan fauna yang bisa di eksploitasi kapan saja.[388]

Seseorang tidak mungkin menaklukkan angkasa luar kalau ia belum menaklukkan alam batinnya. Seberapa jauh umat manusia mengeksplorasi alam batinnya, sebatas itu pulalah kita bisa mengeksplorasi angkasa.[410]

Bumi adalah makhluk hidup berkesadaran dan manusia adalah penyakit terjahat bagi bumi.
Bumi kita ini organisme hidup berinteligensi tinggi dan dia sadar atas semua perlakukan kita kepadanya.[422]

Kita tidak bisa memakai keterbatasan logika untuk memahami kompleksnya dimensi lain. Kalau logika mu tidak sanggup mengikuti, tapi intuisi mu merasakan sesuatu, bukan berarti kita pasti salah kan?....segalanya mungkin.[467]

Inspirasi akan memilih inangnya. Seperti jodoh ketika bertemu dan pas, terjadilah perkawinan, dan muncullah entitas baru. [492]

Partikel


Partikel
Dewi ‘Dee’ Lestari
Bentang Pustaka
Jakarta, 2012

          Engkaulah keheningan yang hadir sebelum segala suara
                     Engkaulah lengang tempatku berpulang

                            Bunyimu adalah senyapmu
                            Tarianmu adalah gemingmu

Pada bisumu, bermuara segala jawaban
Dalam hadirmu, keabadian sayup mengecup

Saput batinku meluruh tatapmu sekilas dan sungguh
Bersama engkau, aku hanya kepala tanpa rencana
Telanjang tanpa kata-kata

Cuma kini
Tinggal sunyi

Dan, waktu perlahan mati

(catatan kecil saat langit kelabu di taman bambu)