Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2012

dialog Waktu

Tulisan ini saya awali dengan sebuah prolog berdialog dengan “Satu Detik” yang diambil dari tulisan Jasiem M. Badr al-Muthawi (Risalah Gusti; 2001)

Pada suatu hari aku duduk dan menghadapkan hati ini ke hadirat Allah sambil menyesali rentangan usia yang telah kulalui. Ku panggil satu detik dari waktu hidupku. Aku katakan kepadanya ;

Minggu, 01 Januari 2012

Krisis Ilmu

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hamba-Nya selain dengan diwasiatkannya para ulama. Sehingga, saat tidak tersisa lagi orang berilmu, orang-orang mengangkat tokoh pemimpin yang bodoh yang ketika ditanya mereka menjawab tanpa kapasitas ilmu. Sungguh, mereka sesat dan menyesatkan.” (HR Bukhari - Muslim).

Pesan Rasulullah SAW di atas memprediksi kondisi masyarakat tanpa pedoman cahaya ilmu. Pesan ini mungkin terkesan kontradiktif jika dibandingkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern kini yang berlangsung sedemikian pesat. Meski, pertanyaan lain muncul, jika memang ilmu pengetahuan demi kebaikan orang banyak, lantas kenapa kebejatan moral justru identik dengan perkembangan ilmu pengetahuan?

Rabu, 07 Desember 2011

Gertrude Hartman

Gertrude Hartman dalam buku Builders of the Old World, 1959
“Menyebarkan fakta dan gagasan melalui buku, majalah, dan surat kabar adalah salah satu cara terkuat untuk belajar tentang kebenaran mengenai apa yang sedang terjadi di dunia. Kita harus tahu kebenaran, dan kebenaran akan membuat kita bebas.”


KOMPAS | Senin, 21 Februari 2011

Gus TF Sakai

·   Kau boleh melupakan pelajaran Biologi-mu, tetapi, untuk hal-hal yang penting tentang hidup, sebaiknya kau selalu ingat.
·        Sastra itu dunia kreatif, dunia melakukan.
·        Betapa indah yang diungkapkan kata, dan betapa buruk pengarangnya.

Gus TF Sakai, Kompas Seni | Minggu, 16 Januari 2011

Anindita S Thayf­

·         Buku yang lebih tua dan semakin sering dibaca lebih kuat dari buku baru yang belum pernah dibaca.
·         Pembacalah yang melakukan reproduksi makna yang menentukan “kekuatan” sebuah buku, bukan pengarangnya.

Suara Buku
·         Hanya ada satu tempat idaman untuk rumpun kata-kata: Buku. Disitulah mereka bisa menjalankan fungsi sebenarnya _menyampaikan ilmu pengetahuan, membagi informasi, hingga menyuarakan kebenaran_ tanpa takut lenyap seketika terbawa angin yang berembus. Buku adalah sebuah prasasti, tempat kata-kata menjejakan maknanya yang ambigu sembari menunggu dipahami lebih lanjut. Pun sebuah kotak harta karun misterius yang bisa mendatangkan berbagai resiko.
·         Setiap buku memiliki suara tersendiri....Seperti berkomunikasi langsung dengan pembacanya.
·         Ada cerita dibalik cerita. Inilah yang terjadi jika buku bisa berdiri sendiri. Ia selalu memberikan sebuah cerita baru setiap kali dibaca ulang.

Buku terkutuk
·         Tetapi, tanpa disadari, membumihanguskan buku-buku terkutuk sama saja dengan melepaskan kutukan itu ketengah pusaran angin. Kutukan akan hinggap dan tersemai di mana-mana.

Anindita S Thayf­_Kompas | Tren | Buku | Minggu, 18 Juli 2010_

Riswan Imawan (alm)

Seandainya dari 30 siswa suatu sekolah dua anak tidak lulus, itu salah muridnya, jika satu kelas tidak lulus semua, itu salah gurunya. Namun, jika seluruh siswa dari satu atau beberapa sekolah di Tanah Air tidak lulus, itu salah sistemnya (Kompas, 4 Juli 2005).

Riswan Imawan (alm) Guru Besar Universitas Gajah Mada_Kompas Opini|Sabtu, 08 Mei 2010_

Ray Bradbury

Anda tidak perlu membakar buku jika ingin menghancurkan suatu kebudayaan. Perintahkan orang untuk berhenti membaca, itu sudah cukup.

Ray Bradbury, penulis AS_Seputar Indonesia, Selasa, 22 April 2008_

Albert Einstein

Pertanda sejati kecerdasan bukanlah pengetahuan tapi imajinasi.

Albert Einstein, Fisikawan As, 1879-1955_Republika_

H.R. Ahmad, Thabrani, Ibnu Hibban, Hakim dan Ibnu Majah

Selamat datang wahai pencari ilmu ! Sungguh, pencari ilmu dinaungi malaikat dengan sayap-sayapnya, kemudian mereka bertumpuk satu di atas lainnya sampai mencapai langit dunia karena kecintaan mereka kepada ilmu 

 H.R. Ahmad, Thabrani, Ibnu Hibban, Hakim dan Ibnu Majah