Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Januari 2012

petikan dari ADONIS

v  Puisi berproses dalam situasi yang terus berubah dan menjadi. Puisi adalah tindakan awal tanpa akhir.
Tujuan puisi adalah pertanyaan, pengamatan, penelitian, dan terobosan.
Puisi menembus batas agama.

v  Sejarah memperlihatkan yang kuat yang menafsirkan. Mereka menciptakan kebenaran tunggal....”mereka “ adalah kolaborasi penguasa, intelektual dan uang.

v  Toleransi sejati tak mungkin dibangun kalau satu pihak mengklaim kebenaran tertinggi.

v  Berpikir adalah pekerjaan berat, tetapi merupakan langkah maju. Kemalasan berpikir membuat orang berjalan mundur, mencari solusi persoalan masa kini dari masa lalu.

_Kompas, Sosok, Jum’at 14 November 2008_

Kita mati jika kita ciptakan Tuhan
Kita mati jika tidak kita bunuh Tuhan
O, kerajaan batu cadas yang kebingungan
(“Aghaniy Mihyar al-Dimasqiy, 1961)

*       

Seseorang Tuhan telah mati
Tuhan yang duduk turun dari sana
Dari tengkorak langit
Siapa tahu
Dalam ketakutan dan kehancuran
Dalam keputusasaan dan di tandus tanah padang pasir
Dari kedalamanku muncul seorang Tuhan
(Mihyar, Adonis)

*       

Dalam Tuhan baru apa
Bangkit jasad kita
Bolak-balik besi impit gerak kita
Algojo-algojo tiada henti siksa kita
Atas nama puing-puing yang bahagia
Kelahiran kita jerit putus asa
Alamak!
(Adonis)


Adonis

Sastrawan Arab yang bernama asli Ali Ahmad Said Asbar (1. 1930). Adonis disebut Ali Harb, salah seorang cendekiawan Arab terkemuka sebagai “nabi”.

Ia adalah simbol yang dipuja sekaligus dikecam karena kerap tak lazim dan menimbulkan kerumitan luar biasa dalam berkarya, juga mendobrak kemapanan. Ia modern dalam pengertian menawarkan kebaruan dan menghadirkan semesta kemungkinan yang tanpa penyudahan. Selebihnya adalah perlawanan atas budaya Arab (islam) yang ia saksikan, rasakan dan dialami sendiri; kemapanan pada tradisi masa lalu.

Ia menghadirkan diri sebagai pencipta yang tak sedia menemui ajal kemapanan (toughtful poet). Kesediaan tunduk pada kepatuhan yang mapan merupakan kemunafikan.

Adonis gelisah pada sastra genealogi sastra Arab yang masih banyak mengagungkan spirit dan bentuk masa lalu, yang tak boleh diganggu gugat serta gelisah pada kebudayaan Arab – Islam yang berirama stanza statis.

Masa lalu menjadi segala-galanya, kebudayaan Arab – Islam kini tak boleh bertanya, dalam nalar masa lalu ia berada. Kekinian tak bermakna kala masa lalu tidak dihadirkan. Tradisi dimanunggalkan dalam tafsir yang serba meliputi.

Simpulan Adonis; ternyata nalar Arab-Islam tak mampu berjejak pada kemajuan zaman karena tertarik jauh ke belakang sejarah. Glorifikasi dan romantisasi masa lalu yang gemilang selalu dipegang. Yang kini (al-hadhir) dan yang mendatang (al-mustaqbal) bersifat linear mengikuti garis lurus tradisi masa lalu (al-turats al-qadim). Bagi kaum konservatif Arab, pandangan inilah yang mencibir Adonis sebagai “Berhala Kejahatan”.

Masa lalu terkait dengan pendasaran prinsip-prinsip keagamaan yang amat statis. Nalar yang dihadirkan mesti diasosiasikan terhadap al-madhi (masa lalu) sehingga generasi berikutnya, hanya mengambil al-ittiba (imitasi), taklid (meniru), dan serba mengikuti struktur arketipe masa lalu. Pelbagai kecenderungan untuk dinamisasi kebudayaan yang muncul untuk keluar dari kerangkeng kejumudan dan konservativisme ditolak habis-habisan. Padahal, “yang dinamis’ identik dengan spirit kemajuan, yang kemudian bersetubuh dengan teologi al-hadhir (kemendatangan), al-aql’ (pemikiran), al-ibda (kreatifitas), al-fard (individu), serta keniscayaan perubahan kebudayaan.

Adonis mengatakan, selamanya orang Arab – Islam tidak akan pernah makmur dan menjadi “pencipta”, kecuali jika struktur tradisional pemikiran Arab itu didekonstruksi sehingga terjadi perubahan dalam cara memandang dan memahami sesuatu. Yang mesti disadari betul bahwa dasar kebudayaan Arab ialah plural, tidak satu.

Masa lalu tidak bernilai, selama ia tidak menjadi kekuatan untuk menjadi kekuatan untuk menjadi bagian masa depan kala ia dimanfaatkan secara inovatif.

Menurut Adonis, modernitas sama dengan sekularisme dan rasionalisme absolut sebagai jalan tunggal menuju keadilan sosial, egalitarianisme, dan kemajuan. Manusia, bukan Tuhan, harus menjadi pusat dunia dengan dirinya sendiri, dan kebebasan atau kehendaknyalah yang mesti mengukir sejarah peradaban sesuai dengan fungsi akal. Hanya melalui pengalaman manusia dan efektivitasnya di dunia luar yang dapat membawa pada makrifat kebenaran, bukan spekulasi, kontemplasi, maupun praanggapan keagamaan yang apriori.

Adonis amat mempercayai bahwa peran manusia-manusia kreatif yang mempunyai will to power dan memahami betul arti kebebasan dapat menjadi agen-agen perubahan utama.

Manusia tidak boleh terkungkung oleh nilai-nilai kebudayaan klasik yang terlalu menentukan, apalagi jika antropologi kemanusiaan terlalu ditentukan secara geosentris yang mengebiri sifat kebebasan. Akan tetapi, dalam pertarungan di panggung sejarah, kemenangan kerap berpihak pada pemegang imitasi dan pendukung kemapanan.

Otoritas kebenaran menjadi milik kaum penguasa. Agama ditempatkan sebagai kekuasaan politis yang memisahkan unsur budaya untuk kemudian memberikan standarisasi pada teks kebenaran, wahyu, dan bangunan keilahian.

Kompas Seni | Wancana | Minggu, 11 November 2007
_Zacky Khairul Umam_
Program Studi Arab FIB UI, Depok

Kamis, 12 Januari 2012

Bangsa yang semu Hasan di Tiro

Bangsa yang semu
            Batasan waktu yang diberikan Hasan Tiro kepada PM Ali untuk menghentikan agresi militernya di jawab oleh Pemerintah Indonesia dengan mengultimatum Hasan Tiro kembali ke Indonesia pada tanggal yang sama yaitu 20 September 1954.
            Keduanya ternyata tidak memenuhi batas waktu yang ditentukan. Hasan Tiro segera menyatakan dirinya sebagai duta keliling dan wakil tetap NII di AS serta PBB. Sementara Pemerintah RI mengambil tindakan dengan membatalkan paspor Hasan Tiro dan meminta AS mengusirnya.
            Pihak Imigrasi AS di New York sempat menahan Hasan Tiro. Ia dibebaskan dengan uang jaminan 500 dolar AS. Belakangan, pemerintah AS memberinya izin tinggal dan kewarganegaraan.
            Sejak saat itu Hasan Tiro aktif berkampanye di forum-forum internasional. Mendesak negara-negara Islam agar memboikot Konfrensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Alasannya, Pemerintah RI telah membunuh para ulama di Aceh, Jabar, Jateng, Sulsel, Sulteng, dan Kalsel. Hasan Tiro juga membuat laporan ke PBB.
         

surat Hasan di Tiro untuk Ali Sastroamidjojo

Teungku Hasan di Tiro dan Pemikirannya

Baru beberapa tahun kemerdekaan diproklamasikan, perang saudara melanda Indonesia. Pemimpin tertinggi Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, SM Kartosoewirjo, menolak mengakui keberadaan RI. Sementara Soekarno menuding Kartosoewirjo membentuk negara dalam negara.
Atas perintah PM Ali Sastroamidjojo yang nasionalis sekuler, tahun 1954 angkatan udara mulai melancarkan pengeboman secara membabi buta atas desa-desa yang dikuasai Tentara Islam Indonesia (TII). Pasukan dari pulau Jawa kemudian diterjunkan dari udara dan membakari rumah-rumah penduduk.
Ribuan penduduk tewas dan ribuan lainnya cedera. Isak tangis terdengar di sana-sini. Pada saat itulah seorang mahasiswa Indonesia asal Aceh yang belajar ilmu hukum di University of Colombia (AS) dan bekerja sebagai staf perwakilan Indonesia di PBB, New York, mengirim surat kepada PM Ali Sastroamidjojo.

biografi TEUNGKU HASAN di TIRO

Selayang pandang Teungku Hasan di Tiro     :

Nama Hasan Muhammad di Tiro, Lahir 25 September  di  Desa Tanjung Bungong, Pidie (Aceh). Anak dari pasangan Teungku Muhammad Hasan dengan Pocut fatimah. Hasan Tiro adalah cicit dari Pahlawan Nasional Teungku Chik di Tiro, empat generasi keluarga Chik di Tiro hampir semua tewas, kecuali wanita dan bayi. Ibu Hasan Tiro, cucu Chik di Tiro. Rakyat Aceh percaya, dalam tubuh Hasan Tiro mengalir darah biru keluarga Tiro.

Pendidikan      :
~  Madrasah Blang Paseh di bawah asuhan Daud Beureuh
~  Atas rekomendasi Daud Beureuh, untuk melanjutkan ke Yogyakarta dan diterima di Fakultas Hukum UII. Sembari kuliah, ia bekerja ia sebagai staf  PM Syafruddin Prawiranegara. (1949 – 1951)
~  Menjadi Menlu NII-Aceh dan pewakilan tetap NII-Aceh di PBB (1954 – 1963)
~  Kembali ke Aceh 30 Oktober 1976
~  Mendeklarasikan Aceh merdeka dan membentuk GAM 04 Desember 1997
~  Tertembak dikawasan hutan gunung Halimun, 1979 pada tahun itu juga meninggalkan Aceh melalui jalur laut, pulang kembali ke Aceh 11 September 2008.

Hasan Tiro menikah dengan wanita Amerika Serikat dan di karuniai seorang anak Karim Hasan di Tiro, dan beberapa cucu.

Kompas|Persona|Minggu 19 Oktober 2008_
Maruli Tobing