Minggu, 08 Januari 2012

Prabu Siliwangi

[148-152]
ISLAMISASI PRABU SILIWANGI DAN DINASTINYA

Ahmad Mansur Suryanegara,1995, Menemukan Sejarah, dalam bab Masuk dan Meluasnya Agama Islam di Jawa Barat, membicarakan tentang proses Islamisasi Dinasti Prabu Siliwangi dan tumbuhnya kekuasaan politik Islam di Jawa Barat. Bersumber dari Carita Purwaka Caruban Nagari-CPCN  yang ditulis oleh Pangeran Arya Cirebon, 1720 M. Kemudian menyusul Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum. 2003 Sunan Gunung Jati, di angkat dari sumber cerita yang sama CPCN.

Dituturkan dalam Cerita Purwaka Caruban Nagari, dampak pernikahan antara Prabu Siliwangi atau Raden Manah Rarasa atau Pamanah Rasa dari Pakuan Pajajaran dengan Njai Soebang Larang putri dari Ki Gedeng Tapa, Sjah Bandar dari Muara Jati Cirebon dan juga Raja Singapura menggantikan kedudukan ayahnya Ki Gedeng Suryawijaya Sakti. Nyai Subang Larang adalah santri dari Sjech Hasanoeddin atau Sjech Qoero (ulama berasal dari Tjempa, mendirikan pesantren di Karawang Jawa Barat). Melalui pernikahannya menjadi sebab terjadinya Islamisasi Prabu Siliwangi dan Dinastinya. Pernikahan tersebut dilaksanakan secara Islami.

Dari hasil pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang, melahirkan tiga orang anak:
1.       Walang Soengsang, lahir 1423 M _putra
2.       Nyai Rara Santang, lahir 1426 M _Putri
3.       Radja Sangra, lahir 1427 M _putra
Ketiga putra dan putrinya adalah perintis awal Dinasti Prabu Siliwangi yang menganut agama Islam.

KARENA DIAMPUNI IA BERTOBAT

Syahdan, seseorang mendatangi majelis pengajian Rabi’ah Al-Adawiyah. Kepada salah seorang wanita sufi terbesar dalam Islam itu, ia membuat testimoni seputar kehidupannya. Ia akui betapa sudah terlalu jauh meninggalkan Allah SWT dan sudah tak terhitung dosa yang ia perbuat, baik dosa-dosa kabaair (dosa-dosa besar) maupun dosa-dosa shogooir (dosa-dosa kecil). Maka, ia mencoba mengukur ragam-ragam kesalahannya.

Di ujung kelelahan pengembaraannya itu, ia merasakan bukannya kesadaran positif yang muncul, melainkan malah merasa semakin jauh dari ketidaktaatan kepada Allah SWT. Lalu, ia bertanya, apakah kalau pada akhirnya ia bertobat Allah SWT akan mengampuninya. “Tidak!” jawab Rabi’ah. Ia tercekat. Serasa palu godam menerjang dadanya. “Tetapi, apabila Dia mengampuni mu engkau akan bertobat,” ujar Rabi’ah.

Syafruddin Prawiranegara

Syafruddin Prawiranegara, kelahiran Serang, 28 Februrari 1911, yang wafat dalam usia 77 tahun ini, adalah Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia saat pemerintah jatuh ke tangan Belanda saat agresi Desember 1948. Syafruddin Prawiranegara Presiden kedua setelah Soekarno yang memimpin PDRI sejak Desember 1948 sampai Agustus 1949.

Asaat Datuk Mudo, Presiden ketiga yang memerintah Desember 1949 sampai Agustus 1950

|Kutipan| |Kompas, 12 Nopember 2011|Kolom, politik-ekonomi |Antihero|Budiarto Shambazy|

Jumat, 06 Januari 2012

TANAM PAKSA

[208]
Sistem pajak in nature, cultuurstelseel disebut juga culture sistem diterjemahkan menjadi tanam paksa. Tanam Paksa ini terjadi pada 1245 – 1337 H/1830 – 1919 M. Penyebab tanam paksa adalah Kerajaan Protestan Belanda dan pemerintah kolonial Belanda krisis keuangan dan tertindih hutang pada East Indian Company (EIC). Akibat dari dampak perang Napoleon, perang Belgia, perang di Eropa dan perang Diponegoro, perang Banten, serta perang Padri.
[209]
Tujuan Taman Paksa penjajah, menurut teori Carl Clausewitz dalam On War adalah the destruction of enemy’s Forces (penghancuran segenap kekuatan lawan), tujuan lainnya adalah mematikan kesadaran da kemampuan dalam sistem pemasaran tanaman. Bagi Belanda sasarannya di Pulau Jawa adalah Ulama dan Santri serta masa pendukungnya.
[217]
Pada 1860 M, Eduard Douwes Dekker atau Multatuli meloporkan pada 1820 – 1887 M dalam bukunya Max Havelaar, sebaliknya diingatkan bahwa kemakmuran yang dinikmati oleh Belanda, setiap Sen nya diperoleh dari jerih payah dan pengorbanan para petani Muslim dari suku Sunda dan Jawa.

Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakan NKRI
Ahmad Mansur Suryanegara
PT. Salamadani Pustaka Semesta
2009 M|Bandung

Tradisi Sesaji Rewanda

Dusun Talunkacang, Desa Kandri, Gunungpati, acara setiap 3 Syawal. Dalam Sesaji Rewanda, warga memberikan makanan berupa gunungan buah-buahan, kacang, dan ketela pohon kepada kera-kera yang tinggal di kawasan Goa Kreo.

Ritual Sesaji Rewanda mempunyai pesan yaitu, untuk menjaga dan melestarikan keseimbangan alam yang mereka sebut dengan ‘Mangreho’ jagalah alam ini agar kehidupan terus berlangsung. Melestarikan tradisi demi kepentingan budaya, wisata dan pelestarian lingkungan.

TAREKAT QADIRIYAH NAQSABANDIYAH Dalam sejarah Indonesia

PERKEMBANGAN TASAWUF

Pada masa pengembangan Islam abad ke-12 M hingga abad ke-17 M, masuk ajaran Tasawuf  N.A. Baloch, menjelaskan aliran Tasawuf yang besar pengaruhnya adalah Tarekat Qadiriyah (Syaikh Abdul Qadir Jaelani) dan Tarekat Naqsabandiyah (Bahauddin Naqsabandiah) dari Bukhara 1390 M. Di Nusantara Indonesia kedua tarekat tersebut menjadi Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah, oleh Sjech Achmad khatib Sambas dan Sjech Abdoel Karim Banten. Pada abad ke-20 M Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah, menjadi sentral di Asia Tenggara oleh K.H. A. Shohibulwafa Tadjul Arifin dari Pesantern Suryalaya Tasikmalaya. [103]

Tentang UANG

Uang sebagai benda, kata, dan makna terus menjadi kuasa.
Uang menjelma menjadi monster dengan sabda-sabda untuk memberi instruksi dan sanksi.

Karl Marx dengan satire mengungkapkan uang adalah dewa. Uang telah menjadi penguasa manusia dan alam. Uang menjelma menjadi pusat dari nilai segala sesuatu. Uang telah merampas dunia dari tatanan kosmis yang mengacu pada norma spiritualitas dan kultural menuju ke tatanan ekonomi dan politik yang materialistik. Karl Marx pun menilai uang sebagai esensi alineatif dari eksistensi manusia dan laku kerja untuk hidup. Uang justru menemukan eksistensi dalam iman manusia karena ritual pemujaan dalam mekanisme produksi dan konsumsi.
[Kompas Seni|Bandung Mawardi|Minggu, 07 Maret 2010]

Uang kertas Rp. 100.000 keluaran tahun 2004 berilustrasikan teks Proklamasi serta gambar Soekarno-Hatta dan gedung parlemen. Uang tak Cuma alat tukar, uang juga alat simbolik kekuasaan politik.

Edukasi, seni, bahkan agama terjerat kuasa – uang.
[Kompas Seni|Binhad Nurrohmat|Minggu, 16 Mei 2010]